Selamat datang di carabudidayasukses.com

Cara Mudah Budidaya Tanaman Padi

Kamis, 25 Juli 20130 komentar

Budidaya Tanaman Padi


Padi adalah salah satu jenis tanaman budidaya paling utama dalam peradaban. Walaupun padi mengacu pada salah satu tanaman budidaya, namun padi bisa juga digunakan sebagai acuan beberapa jenis tanaman dari genus / marga yang sama, yakni tanaman padi liar. Padi sendiri asalnya diduga dari Indocina atau India yang kemudian masuk ke wilayah Indonesia oleh para nenek moyang melalui proses migrasi dari Asia pada tahun 1500 SM.
Budidaya tanaman padi sebenarnya susah-susah gampang. Ada beberapa treatment khusus agar tanaman padi bisa tumbuh dengan baik dengan produksi yang maksimal. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa langkah untuk melakukan budidaya tanaman padi.

Syarat tumbuh
-          Padi bisa tumbuh di ketinggian 0-1500 meter dpl
-          Suhu optimal pertumbuhan sekitar 19 – 270 C
-          Padi membutuhkan penyinaran matahari secara penuh tanpa adanya naungan
-          Angin juga berpengaruh pada proses penyerbukan serta pembuahan
-          Padi mensyaratkan kondisi tanah subur yang berlumpur dengan ketebalan sekitar 18-22 cm, serta pH tanah 4 – 7

Teknis Budidaya
1)      Benih
Jarak tanam padi diatur 25 x 25 cm tiap 1000 m2. Benih yang dibutuhkan sawah sekitar 1,5-3 kg. Sedangkan jumlah ideal penyebaran benih kira-kira 50-60 gr/m2. Untuk perbandingan luas lahan pembenihan dengan luas lahan tanam sekitar 3 : 100, atau kira-kira 1000 m2 sawah dibandingkan 3,5 m2 untuk pembibitan.
2)      Perendaman benih
Benih padi direndam dalam air dan POC NASA dengan dosis 2 cc/lt air dalam waktu 6-12 jam. Selanjutnya tiriskan lalu masukkan goni, benih yang mengambang selanjutnya dibuang. Lalu peram benih dengan daun pisang, bsia juga dipendam dalam tanah hingga 1 – 2 malam lamanya sampai benih berkecambah secara serentak.
3)      Pemeliharaan persemaian / pembibitan
Persemaian diairi secara berangsur hingga ketinggian 3 – 5 cm. Sampai bibit berusia 7-10 hari serta 14-18 hari, lakukan penyemprotan menggunakan POC NASA berdosis 2 tutup tiap tangkinya.
4)      Pemindahan benih
Bibit yang sudah siap untuk dipindahtanamkan menuju sawah adalah yang berusia 21-40 hari, batang bawah kuat dan besar, memiliki daun 5-7 helai, pertumbuhan seragam, serta tidak terserang oleh penyakit dan hama.
5)      Pemupukan
Dosis pupuk yang diberikan sesuai dengan produksi panen yang diharapkan. Seluruh pupuk makro selanjutnya dicampur serta disebarkan secara merata pada lahan sesuai dengan dosis. Khusus untuk penggunaan Hormonik dapat dicampurkan bersama POC NASA lalu disemprotkan (sekitar 1 tutup HORMONIK/tangki + 3-4 tutup POC NASA). Hasil yang didapat bervariasi berdasarkan jenis varietas, jenis dan kondisi tanah, serta serangan penyakit dan hama.

Pengolahan ringan lahan
Pengolahan ini dilakukan menginjak umur 20 HST, dengan tujuan untuk mengatur sirkulasi udara di dalam tanah serta membuang gas yang beracun dan mengikat oksigen.

Penyiangan
Penyiangan rumput-rumput yang liar semisal sunduk gangsir, teki, jajagoan, serta eceng gondok bisa dilakukan sampai 3 kali pada umur tanaman 4, 35, dan 55 minggu.

Pengairan
Penggenangan air bisa dilakukan di tahap awal pertumbuhan, tahap pembentukan anakan, tahap pembungaan, serta tahap bunting. Sementara pengeringan hanya boleh dilakukan di tahap sebelum bunting dengan maksud untuk menghentikan terbentuknya anakan dan pada tahap pemasakan biji guna menyeragamkan serta mempercepat pemasakan pada biji.

Pengendalian hama serta penyakit
Hama dan penyakit pada tanaman padi sebenarnya cukup banyak. Berikut kami berikan sebagian contoh berikut pengendaliannya:
ü  Thrips oryzae (Padi Thrips)
Gejalanya berupa daun menggulung serta berwarna kuning hingga kemerahan, terhambatnya pertumbuhan bibit, serta tanaman dewasa yang tidak berisi. Langkah pengendalian menggunakan Pestona atau BVR.
ü  Nymphula depunctalis (Hama putih)
Gejalanya yakni menyerang bagian daun bibit, munculnya kerusakan berbentuk titik-titik memanjang yang sejajar dengan tulang daun, daun padi tergulung oleh ulat. Langkah pengendaliannya bisa melalui pengaturan air, penggunaan bibit berkualitas, membasmi musuh alami, tabung daun digugurkan, serta menggunakan Pestona atau BVR.
ü  Leptocoriza acuta (Walang sangit)
Hama ini menyerang buah yang masih masak susu. Untuk gejalanya berupa buah yang menjadi hampa atau memiliki kualitas rendah contohnya berkerut, tidak enak, dan berwarna coklat; ditemukannya bercak pada daun bekas isapan serta bulir padi jadi berbintik-bintik hitam. Langkah pengendaliannya dengan bertanam serempak, mengumpulkan serta memusnahkan telur, menjaga kebersihan, menghindarkan musuh alami semisal laba-laba, jangkrik; serta penyemprotan dengan PESTONA atau BVR.
ü  Wereng
Hama ini merusak dengan mengisap cairan pada batang padi, bisa juga dengan menularkan virus. Untuk gejalanya yakni tanaman padi menguning dan mengering, beberapa tanaman nampak seperti terbakar, sementara tanaman yang tak mengering jadi kerdil. Langkah pengendalian dengan bertanam padi secara serempak, membersihkan lingkungan, menggunakan varitas yang tahan wereng semisal IR 36, IR- 64, IR 48, Progo, Cimanuk dsb, serta menghindarkan musuh alami semisal laba-laba, kumbang lebah dan kepinding. Dan yang terakhir dengan menyemprotkan BVR.
ü  Nezara viridula (Kepik hijau)
Hama ini menyerang buah dan batang padi. Untuk gejalanya yakni terdapatnya bekas tusukan pada batang, terdapatnya noda semacam bekas isapan pada buah padi, serta terganggunya pertumbuhan tanaman. Langkah pengendalian dengan mengumpulkan lalu memusnahkan telur-telur hama, bisa juga dengan menyemprotkan PESTONA atau BVR.
ü  Rattus argentiventer (Tikus)
Menyerang batang yang masih muda (umur 1-2 bulan) serta buah. Untuk gejalanya berupa robohnya tanaman padi di petak sawah. Langkah pengendalian berupa pergiliran tanaman, gropyokan, sanitasi, tanam serempak, menghindarkan musuh alami semisal burung hantu dan ular, serta penggunaan NAT atau Natural Aromatic.
ü  Penggerek batang
Menyerang bagian batang serta pelepah daun. Untuk gejalanya berupa pucuk yang layu, kering, berubah warna menjadi kemerahan serta mudah dicabut; daun dan seluruh bagian batang mengering. Kerusakan yang ditemukan pada tanaman berusia muda dikenal dengan hama “sundep”, sedangkan pada tanaman fase bunting (pengisian pada biji) dikenal dengan “beluk”. Langkah pengendalian dengan menggunakan varietas tanaman tahan wereng, meningkatkan kebersihan lahan, menggenangi sawah kurang lebih 15 hari sesudah panen supaya kepompong mati, serta membakar jerami; bisa juga dengan menggunakan PESTONA atau BVR.
ü  Burung
Menyerang di masa menjelang panen dengan gejala berupa tangkai buah yang patah, serta biji yang berserakan. Langkah pengendalian dengan mengusir hama menggunakan orang-orangan sawah atau bunyi-bunyian.
ü  Penyakit tungro
Penyebabnya adalah virus dari penularan wereng hijau jenis Nephotettix impicticeps. Untuk gejalanya ditemukan di seluruh bagian tanaman, seperti pertumbuhan tanaman yang kurang sempurna, jumlah tunas yang berkurang, daun berwarna kuning sampai kecoklatan, malai kecil serta tidak berisi, dan pembungaan yang tertunda. Langkah pengendalian dengan menanam padi varietas tahan wereng semisal Kelara, IR 36, IR 52, IR 54, IR 48, IR 42, IR 46, serta pengendalian vektor virus menggunakan BVR.
ü  Penyakit kerdil
Disebabkan oleh virus yang ditularkan wereng coklat jenis Nilaparvata lugens. Untuk gejalanya berupa seluruh bagian tanaman (termasuk daun) yang menjadi sempit, pendek, buku-buku pendek, batang pendek, berwarna hijau agak kekuning-kuningan, anakan banyak namun kecil. Langkah pengendalian sebenarnya sulit dilakukan, namun usaha pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memusnahkan padi yang terserang serta mengendalikan vector menggunakan PESTONA atau BVR.

Panen dan penanganan pasca panen
-          Panen bisa dilakukan bila butir gabah sudah 80 % menguning serta tangkainya sudah menunduk
-          Alat yang bisa digunakan memanen adalah sabit atau ketam
-          Sesudah panen segera rontokkan malai menggunakan mesin perontok atau manual
-          Usahakan agar seminimal mungkin kehilangan angka produksi panen
-          Setelah dirontokkan, lanjutkan dengan mengayaki, lalu dilakukan pengeringan dibawah sinar matahari selama 2-3 hari
-          Setelah kering kemudian padi digiling untuk memisahkan kulit gabah dari bijinya.
-          Dan beras siap dipasarkan atau dikonsumsi

Demikanlah artikel ringkas seputar cara mudah budidaya tanaman padi. Semoga bisa bermanfaat.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Cara Budidaya Sukses
Copyright © 2011. Situs Cara Budidaya Sukses - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger